<!----><head> Page Not Found
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inspirasi Mittal dengan Baja Part 2

Usaha baja dari nol


Semangat Kerja dan Strategi Manajerial Mittal

Di Surabaya, Mittal mendirikan pabrik baja barunya. Dia bagaikan orang yang masuk dalam kawasan hutan rimba.

Kurang paham dengan bahasa setempat dan tidak adanya pegawai lokal dengan keahlian yang cakap, tidak menyurutkan nyali Mittal untuk meneruskan usaha barunya.


Perkenalan dengan Nur saidah memberi angin segar bagi usaha baja Mittal.

Dedikasi kerja Mittal menurut Nur saidah adalah 
  1. Setiap tugas harus di kerjakan sebaik - baiknya dan tepat (properly). 
  2. Setiap mengerjakan apapun, agar bekerja sebaik - baiknya (perfectly). Meskipun pekerjaan itu mudah dan sederhana seperti menghidangkan teh.
  3. Anda harus tahu persis apa yang harus Anda kerjakan.
  4. Anda berikan loyalitas, Anda juga memerlukan loyalitas.
  5. Ikuti perkembangan teknologi terbaru biar tidak ketinggalan.

Artikel Terkait: Filosofi Usaha Dari Bayi

Bagaimana Mittal menghadapi tantangan usaha ?

Semua usaha pasti ada hambatan dan tantangan yang membuat setiap perusahaan harus melakukan langkah terbaik untuk menghadapi semua tantangan dan hambatan itu.

Lalu apa strategi mittal menghadapi tantangan usaha itu, kami ulas sebagai berikut:


Pertama: Operasional Alat

Adanya pergeseran dari alat tradisional, tungku pembakaran diganti ke tungku pembakaran yang efisien, yang dikenal dengan mini-mills.

Penggunaan mini-mills sepenuhnya menggunakan bahan mentah "baja tua"  atau scrap steel. Sedangkan tungku tradisional menggunakan bahan baku "besi gubal" atau pig iron. 

Kedua: Bahan Mentah

Mittal berfikir jika seiring dengan perkembangan mini-mills maka harga baja tua akan naik tajam dan harus memutar otak untuk menemukan sumber yang kaya baja tua untuk operasional mini-mills.

Tahun 1980 Mittal membaca literatur bahwa sumber bahan mentah yang potensial untuk pengolahan baja namanya DRI (Direct Reduction Iron) yaitu biji besi iron ore yang dapat diolah tanpa menggunakan oksigen dan tanpa melalui peleburan.

Produksi DRI terbilang murah daripada bahan baku lainnya, dan menghemat 40% - 50% sebagai perbandingan tahun 1996 DRI per ton adalah US$ 95 per ton sedangkan baja tua (scrap) bermutu tinggi berkisar US$ 155 per ton. Adapun besi gubal untuk tungku tradisional adalah US$ 125 per ton.

Maka pada tahun 1983 Mittal mengganti bahan baku baja di PT Ispat Indo menjadi DRI. Dia mengimpor langsung bahan DRI dari negara Trinidad Tobago di Kepulauan karibia.

Ketiga: Respek Yang Tinggi

Sentuhan moral kepada bawahannya dibalas dengan loyalitas tinggi. Mittal terbilang dengan sosok yang cool, calm dan confident.

Menjadikan dia orang yang mempunyai loyalitas tinggi kepada bawahannya sehingga bawahannya pun membalas loyalitas yang tinggi kepada Mittal.

Bahasa yang lembut dan tutur kata yang sopan santun, dengan dedikasi tinggi. Siapa yang mau membesarkan perusahannya jika bukan anak buahnya ! Imbuhnya.

Keempat: Berfikir positif

Dalam wawancara Wall Street Journal, Mittal mengatakan bahwa,

Saya merasa, bahwa peluang saya di India sangat terbatas. Bisnis baja adalah kekuatan saya, dan saya ingin membuat usaha baja global terbesar. Saya melihat banyak peluang di Indonesia, sebelum ke Indonesia saya meminta ijin ayah saya untuk merantau dan membuat proyek disana. Itu tantangan besar saya, bayangkan, usia saya baru 26 tahun.

Kelima: Belajar Dari Sistem

Sheka Gupta, pemimpin redaksi The Indian Ekspress mewawancarai Mittal bahwa dia melarikan diri dari birokrasi India yang berada pada fase tiranik.

Mittal menyangkal:.
Saya, tidak lari dari sistem. Saya justru belajar banyak dari sistem. Bahwa bisnis tidak dapat berkembang dalam lingkungan yang mengekang. Anda butuh kebebasan. Anda perlu fleksibilitas. Anda perlu lingkungan dimana Anda bisa berkembang dan melakukan sesuatu yang berbeda.

Keenam: Biaya Sangat Penting dan Kompetisi Sangat Penting

Jika orang asing saja mampu menemukan pelajaran terpenting dari iklim usaha di Indonesia untuk maju, sepatutnya bangsa Indonesia sendiri harus lebih mampu mengambil pelajaran yang lebih banyak untuk maju.

Saingan Mittal terbesar bagi Mittal di Indonesia adalah dia harus merubah hutan rimba menjadi tempat yang menghasilkan dan nyaman untuk usaha.

Saingan terberat adalah perusahaan baja Jepang, yang sudah lebih dahulu berdiri di Indonesia. Jepang di kala itu merupakan produsen baja papan atas.

Pabrik baja jepang Nippon Steel pada dekade 1980 - 1990 an bertengger ditempat pertama sebagai produsen baja dunia. Baru tahun 2001 digeser oleh Arcelor, pabrik baja Eropa. 

Rahasia Jepang adalah bisa memangkas biaya produksi dan mempunyai daya saing yang hebat

Ketujuh: Daya Saing Yang Kuat

Ketika terjadi krisis minyak dunia tahun 1980-an, sebagian besar pabrik Jepang di Indonesia banyak yang gulung tikar namun Ispat Indo tetap bertahan dan daya saing internasional yang menguat. 

Rahasia Mittal adalah sudah memecahkan masalah tentang penggunaan DRI sebagai bahan baku pada mini-mills sehingga memangkas biaya produksi hingga 50 %. Mengadopsi sistem dan metode di Jepang. Mittal mengirimkan para insinyur ke Jepang untuk sekedar sharing dan memahami kegunaan sistem teknologi operasi mereka.

Kedelapan: Sense Manajerial Yang Tajam dan Peka

Mittal adalah orang yang mempunyai intuisi yang bagus dan terlatih disaat dia belajar di Kalkuta dalam menghadapi dan memecahkan masalah mengenai pabrik baja yang terjadi pada tungku, karyawan, biaya operasional, biaya produksi, keuntungan dan kerugian usaha, sistem sewa, akuisi dll.

Menurut Mittal, cara terbaik mengalahkan orang Jepang adalah mengadopsi metode mereka.

Berbekal intusisi yang tajam dan peka Mittal membuktikan efektivitas strategi manajerial dengan menyerap keunggulan teknologi Jepang dan disisi lain dia memadukan prinsip manajemen yang dia anut yaitu memangkas biaya produksi semurah mungkin dan meningkatkan kualitas produk sebaik mungkin.

Rahasia apa dibalik kesuksesan Mittal ?

Visi teknologi dan sense manajerial adalah kunci keberhasilan Mittal. Dia belajar tentang cara memperlakukan visi teknologi yang tajam dan sense manajerial yang peka dalam membangun imperium bisnisnya.

Dengan berbekal pendidikan dan dedikasi yang tinggi dari orang tua-nya Mittal menjadi sosok yang cerdas dan cerdik dalam mengambil peluang usaha di Indonesia. 

Mittal bukan hanya mengalahkan pabrik baja Jepang di Indonesia namun juga dunia. Tahun 2005 menurut IISI, Mittal group tercatat pertama kali sebagai pabrik dengan kapasitas produksi terbesar dunia (63 juta ton setahun), kedua Arcelor (46,7 juta ton setahun), Nippon steel ketiga dengan (32 juta ton setahun).

Mittal menyadari bahwa pendidikan yang di berikan oleh Mohan, ayah Mittal sangat berarti bagi anaknya. Meski berasal dari keluarga miskin dulunya. 
Mohan sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Pendidikanlah yang membuat Mittal keluar dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

Mental pekerja keras dan workholic telah melekat di dalam diri Mittal semenjak dia masih duduk dibangku sekolah. Dia sering membantu ayahnya selepas pulang sekolah di pabrik bajanya dan sebagai ajang melatih jiwa entrepreneur.

Mittal mempunyai mental merantau untuk penghidupan yang lebih baik dan menjadi orang yang terbaik. Dia tidak menganut pandangan konservatif seperti sebagian masyarakat di Jawa, 

Mangan ora mangan asal kumpul (Bisa makan atau tidak yang penting kumpul dengan keluarga besar).

Mittal bukanlah orang yang cengeng yang maunya hanya bersantai menikmati periode awal pernikahan, mereka adalah pasangan yang mempunyai visi jauh kedepan. 

Menyiapkan diri bekerja keras sedini mungkin.

Bukan seperti sebagian pasangan muda yang baru mau bekerja keras setelah memiliki banyak anak, setelah merasa kebutuhan keluarga sangat banyak, baru mulai usaha secara dadakan, penuh kepanikan, dan tanpa perencanaan yang matang.

Mittal orangnya fokus person dan dia tidak tertarik dengan tawaran kakaknya untuk bekerja di kantor dengan hawa AC yang segar dan berpakaian rapi. Namun dia memilih usaha dengan baju kotor belepotan dengan hawa panas di depan tungku bajanya.

Mittal orangnya bukan tempramental namun dia adalah sosok yang calm, cool dan confident sehingga dia mempunyai ESQ yang tinggi dalam dirinya. Bekal ESQ yang tinggi inilah dia bisa mewujudkan impiannya.

Mittal mempunyai intusisi yang tinggi dan peka dalam sense manajerial sehingga tidak ingin ketinggalan dalam teknologi dan perkembangannya. Dan dia tahu persis apa yang harus dilakukan.

Bagaimana Mittal menguasai dunia dengan usahanya?

Dari Surabaya, Mittal mendirikan PT. Ispat Indo sebagai landasan pacu pertama bisnis imperiumnya. Mittal kemudian mengembangkan sayapnya di berbagai belahan dunia. 

Namun sebelum dia memantapkan diri menjadi papan atas dunia dia berusaha keras memperkuat pondasi yang kuat dan kokoh selama satu dekade di Surabaya. Sebagai perusahaan baja yang kuat dan mempunyai daya saing yang tinggi.

Saat itu perusahaan Ispat Indo menjadi perusahaan terbesar kedua setelah Krakatau Steel. Ispat sudah siap untuk dijadikan landasan pacu untuk ekspansi ke mancanegara.

 Jika Surabaya jadi tempat pemberhentian pertama, maka pemberhentian kedua adalah seluruh dunia". 

Demikian koran The Jakarta Post membuat ibarat.

Dari Surabaya, Mittal kemudian mengakuisi ISCOTT, perusahaan baja milik pemerintah Trinidad & Tobago. Dia membeli perusahaan baja yang hampir bangkrut, lalu dia balik dan menyulapnya menjadi perusahaan mencorong yang menghasilkan banyak keuntungan.

Artikel Bersambung Mittal Menguasai Dunia Dengan Baja

Akuisi demi akuisi berikutnya Mittal lakukan di berbagai mancanegara : Meksiko, Kanada, Jerman, Perancis, Polandia, Afrika selatan, Aljazair, Rumania, Amerika Serikat dan puncaknya Mittal mengakusisi paling menggemparkan Eropa saat mancaplok Arcelor, perusahaan baja terbesar di Eropa.

Akuisi inilah strategi kunci mittal dalam mengembangkan kerajaan bisnisnya. Strategi ini memerlukan disiplin dan tingkat kompetensi yang tinggi dan profesional.

Kepercayaan dirinya untuk membenahi perusahaan yang hampir gulung tikar menunjukkan kemampuan dan kematangan manajerialnya yang luar biasa.